BATURAJA, CAHAYAPENANEWS.COM-Rapat dengar pendapat yang telah terjadwal hari Senin 8 September 2025 bersama Bupati dan Direktur PDAM Tirta Raja terkait kenaikan tarif air minum dua kali lipat yang dirasakan sangat membebani masyarakat, menimbulkan kekecewaan bagi Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK) lantaran Bupati tidak hadir dalam pertemuan tersebut, meskupun sudah diundang oleh DPRD. Ketidak hadiran Bupati dalam rapat tersebut jelas menimbulkan tanda tanya besar terhadap publik,” Ada apa.?? Apa mungkin Bupati OKU takut hingga lari dari tanggung jawab,” Wallahualam bissawab.
Menurut zikrullah, kalau cuma audiensi saja dan ngobrol kosong percuma. Kaarena mereka datang dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) sangat mengrharapkan akan kehadiran Bupati OKU. Memang dalam beberapa bulan atau mungkin awal Bupati terpilih, sepertinya anti menemani masyarakat seperti mereka ini.
” Kami sampaikan dan kami tegaskan kepada bapak bapak dan ibu sekalian, sepertinya terlalu prefer, banyak data segala macam yang telah kami bawa. Tapi Bupati Yang Bersangkutan tidak hadir. Ini hanya omong kosong jika kita membahas ini nanti. Saya pastikan omong kosong,” kata Zikrullah.
Maka dari itu,Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK), terkait ketidak hadiran Bupati hari ini, menjadikan motipasi bagi mereka untuk terus menggelar aksi dan akan terus meminta kepada DPRD agar dapat menghadirkan Bupati OKU.
” Artinya, sampai hari ini Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD OKU) tidak mampu menghadirkan Bupati, terlepas entah itu permasalahan nya apa. Kami tekankan sekali lagi, kami minta kepada DPRD hadirkan Bupati. Padahal kami sangat antusias, kami telah bawa data data untuk bicara membahas tentang kemaslahatan masyarakat OKU. Akan tetapi Bupati nya tidak hadir, omong kosong semua ini. Percuma jika kita bicara tarif air minum hanya dengan Direktur PDAM.Tidak akan ketemu hasil nya, karena kebijakan dan keputusan nya ada pada Bupati,” Kata zikrullah menambahkan.
Masih menurut Zikrullah. Hal itu perlu di garis bawahi, DPRD bukan pengambil kebijakan. Direktur PDAM tidak bisa mengambil keputusan terkait kebijakan tersebut (red, karena Direktur PDAM hanya sebagai pelaksana kebijakan).

” Untuk itu kami tidak akan lama lama mengikuti rapat ini, karean tidak ada gunanya. Mohon izin, setelah ini kami akan meningglakn ruang ini karena kami masih ada kegiatan mimbar bebas,” Imbuhnya.
Hal senada disampaikan Mario dalam kesempatan tersebut, menurutnya, pertemuan (RDP) tersebut tidak akan memberikan titik simpul. Karena apa yang mereka sampaikan, kebijakan nya ada pada Bupati. Maka dari itu, pertemuan tanggal 2 kemarin, kami telah meminta kepada ketua DPRD untuk menghadirkan Bupati tanpa berwakil. Karena kami tau itu urusan (red, kenaikan tarif air minum) ada pada Bupati.
” Kami datang kesini membawa apa yang menjadi aspirasi masyarakat. Salah satu poin penting adalah PDAM. Akan tetapi pertemuan ini tidak akan memberikan simpul, karena kebijakan tetap diputuskan oleh Bupati. Karena Direktur PDAM hanyalah sebagai pelaksana tugas. Maka dari itu kami minta hadirkan Bupati,” Ujarnya.
Sementara itu, menanggapi apa yang disampaikan aktivis Perkumpulan Gerakan Kebangsan (PGK). Ketua Komisi III DPRD OKU Densi Hermanto mengatakan,” kami pastikan semua hasil diskusi akan disampaikan dengan pimpinan. DPRD akan menyepakati keputusan yang akan kita ambil pada rapat sore ini. Itu sedikit yang bisa kami sampaikan kealfan pimpinan. Mengenai keafaan saudara Bupati, silahkan rekan rekan selaku eksekutif untuk menyampaikan kepada Bupati kenapa tidak bisa hadir hari ini,” terangnya.
Untuk diketahui, audiensi yang berlangsung di ruang Banmus DPRD, Senin (8/9/2025), selain dihadiri oleh rombongan Perkumpulan Gerakan Kebangsan (PGK), hadir pula beberapa kelompok masyarakat, para anggota DPRD, dan OPD terkait. Akan tetapi, menariknya, Zikrullah, Marino, Muhamad Aldi Mandaura, Refi dan Erik Walk out sebelum rapat dengar pendapat usai. Hal tersebut menurut mereka, sebagai bentuk kekecewaan terhadap ketidak hadiran Bupati OKU dalam rapat tersebut.
Dari pantau portal ini, sebelum meninggalkan ruang rapat, mereka memberikan hadiah simbolis kepada anggota DPRD OKU yang diterima oleh Ketua komisi III Densi Hermanto berupa ayam betina, sebagai simbol, anggota DPRD dan Bupati OKU dianggap penakut. (zen)











